Warga Lereng Bukit Cemas

Warga Lereng Bukit Cemas

Wartawan : TIM PADEK – Editor : Elsy – 05 November 2014 12:20 WIB

Longsor masih Terus Mengintai
Batu besar yang menimpa rumah warga di Batubusuk akhir pekan lalu, menjadi peringatan tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan. Antara lain, Bukit Gado-Gado, Gunung Padang, Bukit Turki, Bukit Panggalangan, bukit sepanjang Bungus dan lainnya.
Tingginya curah hujan beberapa waktu terakhir perlu diwaspadai masyarakat di kawasan tersebut karena bisa menyebabkan longsor.

padekco-1dQEr
Riki 45, warga Bukit Gado-Gado mengaku, masyarakat tetap waspada jika sewaktu-waktu terjadi longsor. “Yang cukup dikhawatirkan apabila turun hujan lebat dan berlangsung lama, seperti beberapa hari kemarin,” jelasnya.
Senada dengan Asri Agus, 73, selama tinggal di Bukit Gado-Gado sudah beberapa kali longsor. “Alam siapa yang tahu. Bisa saja tiba-tiba terjadi bencana seperti longsor. Apalagi akhir-akhir ini hujan memang lebat,” ujarnya.
Lebih dari 300 kepala keluarga yang mendiami kawasan lereng bukit tersebut. Meskipun tercatat sebagai daerah rawan longsor, namun masyarakat tetap tinggal di sana. Bahkan saat ini masih terlihat pembangunan rumah baru di kawasan itu.
Tidak hanya Bukit Gado-Gado, masyarakat yang berada di Gunung Padang juga was-was. Sony, 43, menuturkan, jika terjadi hujan lebat dalam waktu lama, maka beberapa warga mengungsi ke daerah yang lebih aman seperti Palembayan. “Biasanya warga mengungsi ke rumah sanak saudara yang lebih aman.
Bagaimanapun, tinggal di daerah seperti itu dituntut kewaspadaan lebih tinggi,” katanya.
Belum lagi Bukit Penggalangan kawasan Batang Arau. Lokasi bukit ini, jika berdiri di Jembatan Siti Nurbaya dan memandang ke arah perbukitan di sebelah selatan, terlihat perumahan penduduk di lereng perbukitan. Rumah-rumah itu berdiri di kemiringan 30-65 derajat.
Tingginya curah hujan minggu terakhir, perkampungan yang dihuni sekitar 350 kepala keluarga ini harus mendapat perhatian serius pemerintah. Selain rawan bencana, banyak rumah penduduk tidak layak dihuni lagi setelah berkali-kali dihantam longsor.
Mayoritas warga di Bukit Penggalangan tersebut, telah menetap sejak puluhan tahun lalu. Seiring pesatnya pertumbuhan penduduk, penghuni Bukit Penggalangan semakin padat.
Berat massa tanah akan semakin terbebani oleh bangunan. Akibatnya, ketahanan terhadap air hujan dan air tanah pun semakin berkurang.
Padang Ekspres berusaha mendatangi kawasan Bukit Penggalangan dan melihat dari dekat kondisi perumahan warga. Di samping tidak beraturan, rumah-rumah warga tersebut ternyata hanya ditopang oleh batako yang notabene tidak sekuat material bangunan lain.
Et Jhoni, warga setempat tidak dapat menyembunyikan rasa cemasnya. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak karena tidak mempunyai tempat tinggal lain selain di tempat itu.
“Ya, namanya manusia, rasa cemas itu pasti ada. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada tempat tinggal lain,” ucapnya.
Ia sendiri menyadari risiko memilih tinggal di daerah itu. Hanya saja, menurut laki-laki berusia 41 tahun itu, warga mempunyai cara-cara tersendiri untuk mengantisipasi longsor. Salah satunya menanam pohon-pohon kecil seperti kakao dan rambutan.
“Di samping bisa menahan resapan air, buahnya kan juga bisa dijual atau dimakan sendiri,” ujarnya.
Lelen, warga lainnya mengaku setiap kali hujan deras, rasa cemas langsung menyergap.
“Kalau hujan di malam hari, biasanya tidak bisa tidur. Takut kalau terjadi apa-apa. Tidak hanya longsor, di atas bukit juga ada batu-batu besar yang bisa menimpa rumah kami,” tuturnya.
Ketika hujan deras, air hujan tidak lagi mengalir melewati saluran yang dibuat warga. Air itu menyebar ke segala arah karena tidak ada pembendung. “Kita juga harus melihat air di saluran. Kalau rembesannya kecil, berarti ada yang tersumbat di bagian atas. Harus segera diperbaiki. Kalau tidak, pasti longsor. Saya bahkan pernah jam tiga malam naik ke atas bukit untuk memantau aliran air,” ungkapnya.
Rehab Hutan
Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumbar, Erik mengimbau, warga yang tinggal di kawasan bukit berfotografi miring 300 hingga 450 tetap waspada. Pasalnya dengan intensitas hujan tinggi, rentan terjadinya pergerakan tanah yang memicu bencana alam seperti longsor dan jatuhnya batu tebing.
“Tiba-tiba ada batu yang menggelinding dari bukit. Ini terjadi karena terjadinya kelabilan sendimen tanah, sehingga tanah menjadi rapuh dan tidak lagi kuat menahan beban yang ada, seperti batu. Tanah yang labil ini dipicu kondisi hutan kita yang kritis disebabkan aktifitas pembukan lahan baru oleh warga, serta illegal logging, meski dari investigasi kami masih dalam skala kecil,” ungkap.
Dari pantauan WALHI, perbukitan yang memiliki kemiringan 300 hingga 450 tersebut diantaranya, Bukit sepanjang Bungus, Bukit Gado-Gado dan Bukit Lambuang Bukik.
“Seperti di Bukit Bungus, masih ada warga yang membuka akses jalan ke atas menuju perladangan mereka. Secara otomatis pohon ditebang, ini sangat berisiko. Apalagi sampai Desember masih musim penghujan dan arah angin ke tenggara. Saya imbau dinas terkait yakni Dinas Kehutanan agar menjadikan skala prioritas utama untuk melakukan rehabilitasi hutan terutama di perbukitan yang bertopografi kemiringan 300 hingga 450 derajat,” ungkapnya. (*)
http://www.koran.padek.co/read/detail/10409

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: