MENANGKAP PERMASALAHAN SEMEN PADANG

Catatan Lapangan MENANGKAP PERMASALAHAN SEMEN PADANG
Oleh : Desriko Malayu PutraCapture
PT. Semen Padang berdiri sejak tahun 1910 dengan nama NV Nederlandsch Indishe Portland Maatschappij (NV NIPCM) mulai berproduksi pada tahun 1913 dengan kapasitas 22.900 ton per tahun. PT. Semen Padang terdiri dari 2 unit kegiatan, yaitu produksi semen dan penambangan bahan baku atau (raw material). Lokasi kegiatan perusahaan secara keseluruhan seluas + 280 Ha yang terdiri dari pabrik semen Indarung I, II, III, IV dan V, kemudian saat ini juga sedang berlangsung pembangunan pabrik semen Indarung VI.

Bahan baku pembuatan semen terdiri dari batu kapur (lime stone), batu silica (silica stone), tanah liat (clay) pasir besi (iron sand) copper slag dan bahan tambahan fly ash dan pozzolan. Untuk melakukan kegiatan produksi, perusahaan membutuhkan batubara ± 90.000 ton/bulan untuk unit produksi Indarung II, III, IV dan V, setidaknya untuk produksi satu tahun, perusahaan membutuhkan ± 804.000 ton. Kebutuhan Batubara
dipasok dari sumatera barat serta dari propinsi tetangga seperti propinsi riau, Jambi dan Bengkulu. Perusahaan telah memiliki izin penumpukan batubara (stockpile) dengan sistem terbuka (open storage) untuk kebutuhan bongkar-muat atau tempat penumpukan sementara dan system tertutup (close storage) yaitu tempat pengolahan batubara sebelum digunakan. Kualitas batubara yang dibutuhkan berkualitas tinggi antara 6100-7100 kcal namun dalam realisasinya batubara untuk kualitas tersebut sulit ditemukan semenjak produksi batubara ombilin oleh PT. Bukit Asam menurun, maka kebutuhan batubara dipasok oleh dari pihak ketiga yang kualitasnya bervariasi antara 5500-6000 kcal. Dikarenakan kualitas batubara yang bervariasi, maka perusahaan akan melakukan penggolahan (pengadukan) antara batubara kualitas tinggi dengan kualitas sedang atau rendah, agar mendapatkan kualitas rata-rata saat digunakan. Selanjutnya lokasi penumpukan batubara (stockpile) berada diketinggian 183 Mdpl dan berada tidak jauh dari pemukiman masyarakat. Aktifitas bongkar-muat, lalu-lalang kendaraan serta penggolahan (pengadukan) akan menimbulkan dampak debu dan berpotensi sampai ke pemukiman masyarakat. Perusahaan memiliki tujuhbelas cerobong yang menghantarkan emisi ke udara. Setiap cerobong yang terhubung dengan klin perusahaan memasang Electro Static Prepicitator (ESP) dan Baghouse Filter (BHF) untuk mengendalikan polutan (penyaring) dan memasang Contiuous Emission Monitor (CEM) untuk memantau emisi. Terdapat lima cerobong yang terhubung dengan klin dan dilengkapi dengan CEM. Untuk duabelas cerobong lainnya tidak dilengkapi dengan CEM diantaranya tujuh cerobong yang dilengkapi alat pengendali polutan berupa ESP dan lima cerobong yang dilengkapi dengan BHF. Hasil monitoring emisi (data CEM) dilaporkan oleh perusahaan setiap tigabulan sekali kepada instansi terkait.
Debu Semen Menjadi Keluhan Warga Permasalahan debu yang timbul akibat aktifitas perusahaan semen padang telah menjadi perbincangan yang hangat oleh masyarakat, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar areal pabrik. Terutama bagi masyarakat di komplek perumahan HO RW V,VI,VII ranah cubadak, kelurahan Indarung, kecamatan lubuk kilangan, kota padang. Dimana aktifitas produksi perusahaan telah menimbulkan dampak debu dan merusak atap rumah warga. Sebagaimana diketahui bahwa debu-debu yang berada di atap rumah warga merupakan debu semen bersumber dari perusahaan. Debu tersebut melekat, keras dan berkontribusi atas percepatan pelapukan atap seng. Bagi rumah yang kondisi atapnya sudah lapuk atau keropos maka rembesan air hujan akan berkontribusi atas pelapukan kuda-kuda rumah dan rusaknya loteng rumah. Kondisi seperti di atas telah berlangsung lama, setidaknya keresahan itu muncul sekitar bulan september 2010 yang lalu hingga sekarang.
Gambar : Debu semen yang menempel di atap warga, Bapedalda,2014
Semen adalah debu. Jika perusahaan menjual debu (semen) semestinya debu semen itu tidak dibiarkan “keluar” sebab akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Lantas faktor apa yang membuat semen bisa sampai dipemukiman masyarakat? Pertanyaan ini tentunya
akan menuntun faktor apa saja yang membuat hal itu terjadi. Aktiftas pabrik semen padang berpotensi menimbulkan debu-TSP (total suspended particulate) dari aktivitas produksi dan stockpile (penumpukan, bongkar-muat dan penggolahan).
1. Aktifitas Produksi
a. Proses Penyiapan Bahan Baku

Bahan baku utama semen yang berupa bahan baku yang diperoleh dari mining atau tambang. Bahan baku berupa batu kapur (limestone), tanah liat (clay), pasir silika dan pasir besi (iron sand). Batu kapur akan dihancurkan dengan crusher guna memperkecil ukuran material agar mudah dalam proses penggilingan. Untuk material clay dan silica, mesin yang digunakan adalah Impact Roller Crusher dan Jaw Crusher. Bahan-bahan dihaluskan pada mesin penggilingan bahan baku (raw mill) dan disimpan di tempat penyimpanan masing-masing bahan baku (silo raw mill). Bahan baku ini nantinya akan diaduk hingga menjadi bahan dasar pembuatan semen (raw mix).
b. Proses Pengolahan Bahan

Sebelum diolah, bahan baku (raw mix) diumpankan/ ditimbang di klin fit agar mendapatkan takaran yang sesuai dengan kapasitas mesin pengolahan (klin). Raw mix dikirim melalui elevator dan masuk ke suspension pre-heater (SP) atau cyclone preheater untuk memisahkan gas panas dengan material. Gas Panas akan terhubungan dengan electro static precipitator (ESP) dan material akan turun menuju proses berikutnya.
Bahan baku masuk pada bagian tengah (Klin), sementara itu udara panas masuk ke dalam bagian bawahnya. Material yang sudah tergiling halus akan terbawa udara panas keluar raw mill melalui bagian atas alat tersebut. Klin memiliki bagian yang dinamakan dengan separator yang berfungsi untuk mengendalikan
ukuran partikel yang boleh keluar dari raw mill, partikel dengan ukuran besar akan dikembalikan ke dalam raw mill untuk mengalami proses penggilingan kembali agar ukurannya mencapai ukuran yang diharapkan. Sementara itu partikel yang ukurannya telah memenuhi kebutuhan akan terbawa udara panas menuju cyclone. Cyclone berfungsi untuk memisahkan antara partikel yang cukup halus dan partikel yang terlalu halus (debu). Partikel yang cukup halus akan turun ke bagian bawah cyclone dan dikirim ke Blending Silo untuk mengalami pengadukan dan homogenisasi. Partikel yang terlalu halus (debu) akan terbawa udara panas menuju electro static precipitator (ESP). Alat ini berfungsi untuk menangkap debu-debu tersebut sehingga tidak lepas ke udara. Efisiensi alat ini adalah 95-98 persen. Debu-debu yang tertangkap, dikumpulkan di dalam dust bin, sementara itu udara akan keluar melalui stack. Material akan mengalami proses pencampuran (blending) dan homogenisasi di dalam blending silo. Alat utama yang digunakan untuk mencampur dan menghomogenkan bahan baku adalah blending silo, dengan media pengaduk adalah udara. Bahan baku masuk dari bagian atas blending silo dan keluar dari bagian bawah blending silo dilakukan pada beberapa titik dengan jarak tertentu dan diatur dengan menggunakan valve yang sudah diatur waktu bukaannya. Proses pengeluarannya dari beberapa titik dilakukan untuk menambah kehomogenan bahan baku. Blending silo dilengkapi dengan alat pendeteksi ketinggian (level indicator), sehingga jika blending silo sudah penuh, maka pengisian bahan baku terhenti secara otomatis.
c. Proses Pembakaran

Alat utama yang digunakan untuk proses pemanasan awal bahan baku adalah suspension pre-heater, sedangkan alat
bantunya adalah kiln feed bin. Material akan masuk terlebih dahulu pada cyclone yang paling pertama hingga keluar dari cyclone yang kelima. Setelah itu, material akan masuk ke dalam rotary kiln. Rotary kiln adalah alat berbentuk silinder memanjang horizontal yang diletakkan dengan kemiringan tertentu. Kemiringan rotary kiln umumnya sekitar 3-4 derajat, dengan arah menurun (declinasi). Pada umumnya panjang rotary klin mencapai 80 meter dengan diameter 5 meter. Di dalam Rotary klin dilapisi dengan batu tahan api (fire break) setebal 22 cm yang mampu menahan panas hingga 1700 derajat celsius. Dari ujung tempat material masuk (inlet), sedangkan di ujung lain adalah tempat terjadinya pembakaran bahan bakar (burning zone). Jadi material akan mengalami pembakaran dari temperatur yang rendah menuju ke temperatur yang lebih tinggi. Bahan bakar yang digunakan adalah batu bara, sedangkan untuk pemanasan awal digunakan industrial diesel oil (IDO). Untuk mengetahui sistem kerja rotary klin, proses pembakaran bahan dilengkapi dengan gas analyzer. Gas analyzer ini berfungsi untuk mengendalikan kadar O2, CO, dan NOx pada gas buang jika terjadi kelebihan atau kekurangan, maka jumlah bahan bakar dan udara akan disesuaikan. Daerah proses yang terjadi di dalam rotary klin dapat dibagi menajadi 4 bagian yaitu: daerah transisi, daerah pembakaran daerah pelelehan dan daerah pendinginan.
Alat utama yang digunakan untuk proses pendinginan klinker (material yang sudah dibakar) adalah cooler. Cooler ini dilengkapi dengan alat penggerak material, sekaligus sebagai saluran udara pendingin yang disebut dengan grate atau alat pemecah clinker (clinker crusher). Setelah proses pembentukan clinker1 selesai dilakukan di dalam rotary klin, klinker tersebut terlebih dahulu didinginkan di dalam cooler sebelum disimpan di dalam clinker silo.
1 Klinker adalah bahan baku semen yang sudah berbentuk bulat seperti kelereng Halaman 7 of 13
Klinker yang keluar dari rotary klin masuk ke dalam kompartemen, akan jatuh di atas grate. Dasar grate ini mempunyai lubang-lubang dengan ukuran yang kecil untuk saluran udara pendingin. Clinker akan terus bergerak menuju kompartemen yang kesembilan dengan bantuan grate yang bergerak secara reciprocating, sambil mengalami pendinginan pada ujung kompartemen kesembilan terdapat clinker crusher yang berguna untuk mengurangi ukuran clinker yang terlalu besar. Selanjutnya clinker dikirim menuju tempat penampungan clinker (clinker silo) dengan menggunakan alat transportasi yaitu pan conveyor. Sebelum sampai di clinker silo, clinker akan melalui sebuah alat pendeteksi kandungan kapur bebas (free lime). Jika kandungan free lime dari clinker melebihi batas yang telah ditentukan, maka clinker akan dipisahkan dan disimpan dalam tempat penampungan (bin) tersendiri.

d. Proses Penggilingan Akhir
Penggilingan akhir, dimana terjadinya penggilingan clinker dengan gypsum. Alat utama yang digunakan adalan tube mill. Peralatan yang menunjang proses penggilingan akhir ini adalah:
tube mill/horizontal mill, separator, bag filter. Gypsum adalah bahan tambahan dalam pembuatan semen yang akan dicampur dengan clinker pada penggilingan akhir. Gypsum yang dapat digunakan adalah gypsum alami dan gypsum sintetic. Gypsum disimpan di dalam stockpile gypsum, kemudian dengan menggunakan dump truck, gypsum tersebut dikirim ke dalam tempat penampungan gypsum untuk siap diumpankan ke dalam penggilingan akhir dan dicampur dengan clinker. Clinker yang akan digiling dan dicampur dengan gypsum, terlebih dahulu ditransfer dari clinker silo menuju clinker bin. Dengan menggunakan bin maka jumlah clinker yang akan digiling dapat diatur dengan baik oleh weight feeder. Alat yang digunakan untuk melakukan penggilingan clinker dengan gypsum disebut tube mill. Alat ini berbentuk silinder horizontal. Bagian dalam tube mill terbagi menjadi dua kompartemen. Yang dari masing-masing kompartemen tersebut diisi dengan bola-bola baja dengan beragam ukuran. Kompartemen pertama diisi dengan bola-bola baja yang berdiameter lebih besar daripada bola-bola yang ada di kompartemen kedua. Prinsip penggunaan bola-bola baja dari ukuran yang besar ke ukuran yang kecil adalah bahwa ukuran bola-bola baja yang lebih kecil menyebabkan luas kontak tumbukan antara bola-bola baja dengan material yang akan digiling akan lebih besar sehingga diharapkan ukuran partikelnya akan lebih halus. Material yang telah mengalami penggilingan kemudian diangkut oleh bucket elevator menuju separator. Separator berfungsi untuk memisahkan semen yang ukurannya telah cukup halus dengan ukuran yang kurang halus. Semen yang cukup halus akan dibawa udara melalui cyclone, kemudian ditangkap oleh bag filter yang kemudian akan ditransfer ke dalam cement silo. Sedangkan semen yang keluar dari bawah cyclone akan dimasukkan kembali ke dalam tube mill untuk digiling kembali.
e. Proses Pengemasan (Packing)
Silo semen tempat penyimpanan produk dilengkapi dengan sistem aerasi untuk menghindari penggumpalan/koagulasi semen yang dapat disebabkan oleh air dari luar, dan pelindung dari udara ambient yang memiliki humiditas tinggi. Setelah itu semen dari silo dikeluarkan dengan menggunakan udara bertekanan (discharge) dari semen silo lalu dibawa ke tempat penampungan (bin) sementara sebelum masuk ke mesin packer atau loading ke truck.
2. Aktifitas Stockpile
Aktifitas stockpile juga menjadi keluhan warga. PT. Semen Padang memiliki dua sistem penumpukan batubara yaitu: dengan sistem terbuka (open storage) untuk kebutuhan bongkar-muat atau tempat penumpukan sementara dan sistem tertutup (close storage) yaitu tempat pengolahan batubara sebelum digunakan. Tidak kurang dari 3000 ton/hari batubara dibutuhkan untuk menjalankan pabrik. Aktifitas truk pengangkut batubara menuju lokasi stockpile cukup tinggi.
Gambar : Lokasi stockpile batubara PT. Semen Padang, 2014
Sebagaimana yang telah digambarkan di atas bahwa lokasi stockpile berada di ketinggian 183 Mdpl sementara pemukiman masyarakat berada diketinggian 162 Mdpl. Jarak stockpile dengan pemukiman sekitar 150 meter. Aktifitas bongkar-muat batubara dilokasi ini tentu akan berdampak bagi pemukiman. Misalkan angin bertiup ke arah barat, debu yang muncul akibat aktifitas ini langsung terbang ke pemukiman warga. Faktor Kemungkinan Debu Pengawasan terhadap emisi yang ditimbul akibat aktifitas pabrik terfokus perusahaan memasang Electro Static Prepicitator (ESP) dan Baghouse Filter (BHF) dipantau dengan Contiuous Emission Monitor (CEM) dan manual. Untuk pemantauan kualitas udara perusahaan melakukan uji baku mutu udara dan monitoring arah angin dengan mengunakan jasa pihak ketiga seperti Baristan dan Unilab. Pekerjaan ini dilakukan secara berkala. Setelah dilakukan pemantauan di pemukiman masyarakat komplek perumahan HO RW V,VI,VII ranah cubadak, bahwa debu yang melekat di atap masyarakat bukan debu atau pasir halus. Dapat dipastikan debu itu semen. Sehingga telah berdampak pada rusaknya atap rumah masyarakat dan kumuhnya pemukiman. Pada saat aktifitas pabrik mati (shutdown) maka alat penangkap debu (ESP) tidak bekerja. Hal bisa terjadi karena faktor mati lampu atau kerusakan alat. Jika itu terjadi maka debu hitam akan keluar dari cerobong pabrik yang berisikan material debu semen dari pabrik Indarung II, III, IV dan V. Walau keadaan ini tidak memakan waktu yang lama akan tetapi debu semen yang ditimbulkan cukup banyak. Kejadian ini juga bisa terjadi pada saat penghidupan mesin pertama (star-up) dimana ESP belum dapat bekerja seiring dengan mesin.
Gambar : Debu pabrik saat gangguan mati lampu, 2014 Agar Electro Static Prepicitator (ESP) bekerja dipengaruhi oleh temperatur dan kandungan CO berlebih. Kondisi itu akan mempengaruhi efektiifas kerja ESP, jika kandungan CO berlebih, kelembaban material tinggi maka alat tidak akan bekerja. ESP akan mati secara otomatis sementara produksi tetap berjalan tanpa penyaringan. Maka dibutuhkan ketelitian pengawasan di ruang pusat kontrol (Central Control Station) terhadap alat ini. ESP juga memiliki kapasitas maksimum, jika produksi melebihi kapasitas prosuksi yang telah ditetapkan maka ESP tidak bekerja normal. Selanjutnya kondisi ESP yang tidak bagus juga berpengaruh dengan tangkapan sebu. Dapat disimpulkan bahwa kemungkinan penyebab debu tidak terkelo dikarenakan ESP, BHF dan DAS Filter tidak bekerja dengan baik. Ketiga alat ini bekerja yang terintegrasi dengan alat lainnya misalkan pengaruh dari Great Cooler, Klin, tempat penggilingan semen (cement mill) dan sebagainya. Kemungkinan-kemungkinan timbulnya debu :
– Jika Electro Static Prepicitator (ESP) Cooler tidak bekerja normal atau rusak.
– Jika pembakaran bahan bakar di klin tidak sempurna (pembakaran Klin) atau drop akibat transisi peningkatan panas atau berkurangnya panas di klin.
– Jika tarikan (draf) dari Cooler Exces Pan (CEP) terlalu tinggi maka akan menyebabkan ESP tidak bekerja normal
– Jika temperatur gas panas masuk ke ESP terlalu tinggi sehingga ESP tidak dapat bekerja normal
– Jika ESP secara mekanik rusak misalkan Collecting Plat bengkok, Discard Elektroda bengkok/ rusak, Reefing Gear tidak berjalan normal
– Jika terjadi electrikal problem di ESP misalkan daya listrik tidak stabil (mili amper, Kilo Volt)
– Jika alat transport EP bermasalah
– Jika operasional great cooler yang tidak normal
Kemungkinan-kemungkinan di atas dapat diperiksa dilapangan dan dilakukan oleh pihak independen dengan cara melakukan pengawasan langsung di alat control dan memasang alat penguji lainnya. Sendainya ditemukan kerusakan pada alat maka perbaikannya membutuhkan waktu yang lama dan operasional pabrik harus dihentikan. Perusahaan akan mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk melakukan perbaikan tersebut. Hal ini tentunya akan berseberangan dengan target produksi yang sudah dipasang oleh manajemen perusahaan. Sehingga jika pun ada alat yang sudah saatnya membutuhkan perawatan cenderung “diabaikan” selagi alat itu masih bias digunakan. Selanjutnya untuk meminimalisir dampak perananan sumberdaya manusia yang melakukan pengontrolan sangat penting, sendainya gagal melakukan monitoring beberapa menit saja maka akan berdampak luas bagi produksi terutama terhadap debu.

One Response to MENANGKAP PERMASALAHAN SEMEN PADANG

  1. afdal mengatakan:

    Betul sekali bang…
    Sekarang debu buangan pt.sp sudah semakin parah..kira2 hampir seukuran butiran pasir debu yg turun dari langit saat perusahaan membuang limbah ke udara..ini sangat mengecewakan .. Dan harusnya ditindaklanjuti serius.. Masa perusahaan se “besar” itu masih curang dalam urusan k3 dan masayarakat…
    Perusahaan juga suka membuang limbah ukuran besar saat hujan dan tengah malam..takut ketahuan mungkin kalau dibuang siang hari…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: