Sektor Migas dan Pertambangan Rawan Korupsi

Sektor Migas dan Pertambangan Rawan Korupsi
Posted by Rakyat Aceh on August 29, 2014 in METROPOLIS | 0 Comment
Link: http://rakyataceh.co/2014/08/sektor-migas-dan-pertambangan-rawan-korupsi/?undefined&undefined
BANDA ACEH – RakyatAceh.co – Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh, Askhalani menilai penerimaan sektor Industri Ekstraktif seperti Pertambangan, Kehutanan dan Minyak gas (Migas) di Provinsi Aceh rawan terjadinya korupsi.
Hal ini diungkapkan Askhalani, disela-sela diskusi aspek penerimaan negara dari sektor industri ekstraktif yang diselenggarakan GeRAK Aceh bekerjasama dengan Publish What You Pay (PWYP) Indonesia, yang menghadirkan unsur pemerintah daerah, seperti perwakilan Bappeda Provinsi Aceh, Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Provinsi, Dishut Aceh, Disbun Aceh, BP2T Provinsi, Dinas Pendapatan dan Kekayaan Aceh, Direktoral Jendral Pajak Wilayah Aceh serta anggota dewan terpilih Teuku Irwan Djohan, Selasa (26/8).

“Selama ini pemerintah pusat sangat tertutup dalam memberikan informasi kepada publik, baik itu dalam penerimanaan Dana Bagi Hasil (DBH) maupun jumlah produksi yang dihasilkan oleh pihak perusahaan,” ujar Askhalani.
Meski industri pertambangan mineral dan batubara, industri kehutanan serta migas berkontribusi bagi penerimaan negara, kata Askhalani, Namun tidak jarang industri ini sering memicu berbagai persoalan sosial, tumpang tindih penggunaan lahan, hingga persoalan lingkungan yang tidak sedikit.
“Aceh merupakan daerah melimpahnya potensi sumber daya alam yang meliputi migas, pertambangan, kehutanan serta sumber daya alam lain di Aceh. Tapi apa kenyataanya, rakyat Aceh masih jauh dari kesejahteraan,”ungkap Askhalani.
Menurutnya, Kondisi itu menjadi kontradiktif, mengingat Aceh merupakan daerah yang telah diberikan otonomi khusus (otsus) dengan proporsi pembagian DBH migas yang relatif lebih besar dibandingkan dengan daerah penghasil lain di Indonesia.
“UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, jelas menyebutkan pengaturan mengenai penggunaan DBH. Pada tahun 2013, Aceh mendapatkan alokasi tambahan DBH SDA pertambangan minyak bumi dan gas sebesar Rp 827 miliar, tapi kenapa masih banyak rakyat yag tidak sejahtera,” jelasnya.
Utuk itu, lanjut Akhalani, perlu didiskusikan lebih dalam, mengenai titik-titik persoalan dalam mekanisme penerimaan dan perhitungan aliran penerimaan bagi hasil migas, pertambangan dan kehutanan di Provinsi Aceh, terutama untuk mendorong tata kelola penerimaan yang transparan dan akuntabel, sesuai dengan kerangka legal yang berlaku.
“Kita meminta kepada pemerintah pusat agar memberi data riil, terkait DBH untuk Aceh yang selama ini disebut-sebut pembagiannya 70 persen untuk Aceh dan 30 persen untuk pusat. Karena, selama ini tidak ada data ril dan informasi yang bisa di akses oleh publik terkait hal tersebut, sehingga ini sangat rawan terjadinya korupsi,” cetusnya.
Sementara itu, National Coordianator PWYP indonesia, Maryati Abdullah meminta kepada pemangku kepentingan seperti Kepala Daerah dan Dinas terkait, untuk memberi akses kepada publik agar masyarakat lebih paham dan tahu berapa jumlah penerimaan dan perhitungan aliran penerimaan bagi hasil migas, pertambangan, kehutanan di Provinsi Aceh yang selama ini tertutup bagi publik.
“Ke depan pengelolaan informasinya lebih terbuka. Sehingga penggunaan penerimaan negara sektor ekstraktif lebih transparan, tepat sasaran, dan efektif bagi pembangunan. Kalau ini tetap tidak dilakukan, maka patut dicurigai bahwa adanya permainan yang dilakukan oleh masing-masing kepentingan guna melakukan tindak korupsi secara bersama-sama,” ujar Maryati Abdullah. (***)
__._,_.___
________________________________________
Posted by: TM Zoel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: