Aceh Darurat Lingkungan

Aceh Darurat Lingkungan
Jumat, 6 Juni 2014 | Dibaca 24 kali
Short Url
Bencana Alam Timbulkan Kerugian Rp800 Miliar
Link:http://analisadaily.com/news/read/aceh-darurat-lingkungan/35704/2014/06/06

Aceh, (Analisa). Perusakan bumi, air, udara, dan hutan terus berlanjut secara sistematis, masif, dan cepat. Tak terkecuali di Aceh. Maraknya bencana alam di berbagai daerah selama ini juga dapat dijadikan salah satu tolok ukurnya. Penduduk dunia terus bertambah dan sumber daya alam semakin banyak dipakai untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

Ancaman perubahan iklim juga mempengaruhi kehidupan kita dan masa depan bumi. Bisnis kehutanan meskipun menguntungkan, tapi juga sangat menghancurkan sumber daya alam Aceh. Dibutuhkan regulasi yang baik, sehingga efek-efek buruk seperti bencana dapat dihindari.
“Perilaku kehidupan kita juga sangat mempengaruhi tingkat deforestasi hutan yang pada akhirnya akan membawa bencana alam,” ujar Akademisi Lingkungan dari Universitas Serambi Mekkah, Ir.TM.Zulfikar kepada wartawan, Kamis (5/6) berkaitan dengan peringatan Hari Lingkungan Sedunia.
Dikatakan, Provinsi Aceh merupakan wilayah yang saat ini memiliki jumlah penduduk lebih dari 5 juta jiwa dan memiliki kawasan sangat kaya akan sumber daya alam (SDA). Namun ternyata kekayaan alam Aceh tersebut belum sesuai dengan keadaan penduduk Aceh yang 19 persen dari total seluruh jumlah penduduknya masuk dalam kategori miskin.
Padahal, sebagaimana diketahui Aceh memiliki potensi alam yang sangat menjanjikan, seperti hutan, tambang, ikan laut, terumbu karang, serta aneka flora dan fauna lain yang dapat menjadi sumber penghidupan masyarakatnya jika dikelola dengan baik.
Namun, sayangnya sebagian besar sumber daya alam di Aceh lebih banyak dimanfaatkan oleh investor asing, sedangkan masyarakat hanya menerima dampak buruk kerusakan lingkungan akibat dari pemanfaatan sumber potensi alam di kawasan mereka.
“Aceh saat ini berada dalam kondisi darurat lingkungan. Bayangkan saja, kerusakan lingkungan yang dimulai dari kerusakan hutan sampai saat ini masih terus terjadi,” tegas Zulfikar.
Menurut mantan Direktur Walhi ini, tercatat dari luas daratan lebih dari 5,6 juta hektar, Aceh memiliki kawasan hutan seluas 3,5 juta hektar, namun deforestasi dan degradasi hutan masih terus terjadi dengan berbagai sebab, antara lain pembukaan lahan untuk pembangunan jalan dan rumah, perkebunan, pertambangan, dan penebangan liar yang pada gilirannya menyebabkan terjadinya bencana dan kerugian sangat besar.
“Catatan saya melalui berbagai sumber yang ada, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir kerugian dari kerusakan hutan akibat banjir dan longsor menembus angka Rp800 miliar,” ungkap Zulfikar.
Rawan bencana
Dikatakan, kesalahan pengelolaan sumber daya alam juga telah menjadikan Aceh sebagai kawasan yang rawan bencana. Pembangunan Aceh selama ini hanya fokus pada fisik saja dan mengesampingkan faktor kestabilan lingkungan. Padahal, faktor lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Aceh.
Sejak tahun 2008 hingga akhir Mei 2014, ungkap Zulfikar, Aceh telah menerima dana pembangunan lebih dari Rp100 triliun, sehingga menempatkan daerah ini sebagai salah satu daerah terkaya dengan tingkat penerimaan per kapita kelima tertinggi di Indonesia.
Faktor penyebab timbulnya berbagai permasalahan dalam pembangunan di Aceh karena sering menjadi lahan mengeruk keuntungan bagi sebagian orang. Padahal, berbagai peraturan tentang pembangunan telah diatur dengan baik oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh dengan visi “Aceh yang bermartabat, sejahtera, berkeadilan, dan mandiri berlandaskan Undang-undang Pemerintahan Aceh sebagai wujud MoU Helsinki” dan memiliki misi memperbaiki tata kelola pemerintahan yang amanah melalui implementasi dan penyelesaian turunan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU-PA) untuk menjaga perdamaian yang abadi.
Misi lainnya, menerapkan nilai-nilai budaya Aceh dan nilai-nilai Dinul Islam di semua sektor kehidupan masyarakat. Lalu memperkuat struktur ekonomi dan kualitas sumber daya manusia. Melaksanakan pembangunan Aceh yang proporsional, terintegrasi dan berkelanjutan serta mewujudkan peningkatan nilai tambah produksi masyarakat dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam (SDA).
Selama ini Aceh sering mengalami bencana karena tidak seimbangnya porsi pembangunan fisik dan pembangunan ruang hijau. Pembangunan berwawasan lingkungan dapat diterapkan dengan perencanaan pembangunan yang matang. Hal ini harus sinergis dan disesuaikan dengan RTRWA, RPJPA, RPJMA serta keterlibatan semua pihak antara lain pemerintah, akademisi, dan stakeholder sebagai pelaksana pembangunan.
“Semoga peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dilaksanakan setiap 5 Juni menjadi momentum bagi kita semua untuk lebih peduli akan lingkungan agar tetap asri dan lestari, serta Aceh mampu meminimalisir kerusakan lingkungannya,” tandas Zulfikar. (irn)
__._,_.___
________________________________________
Posted by: TM Zoel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: