Langkah Panjang Perjuangan Korban Pembangunan Dam PLTA Koto Panjang Masih Belum Berakhir

Press Releas
Eksekutif Daerah WALHI Sumatera Barat
Langkah Panjang Perjuangan Korban Pembangunan Dam PLTA Koto Panjang
Masih Belum Berakhir

“Butuh 100.000 orang untuk menandatangani petisi dukungan bagi masyarakat korban Dam PLTA Koto Panjang untuk diperhatikan di Mahkamah Agung Jepang agar proses peradilan memihak kepada korban”
17 tahun sudah pasca diresmikannya PLTA Koto Panjang pada tanggal 28 Februari 1997, namun perjuangan masyarakat korban Dam PLTA Koto Panjang masih belum mencapai titik finish. Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi bersama BP RKDKP (Badan Perjuangan Rakyat Korban Dam Koto Panjang), The Support Action Center For Koto Panjang Dam Victims Jepang, Comparative Public Policy Osaka University, Eksekutif Nasional WALHI, WALHI Riau dan WALHI Sumatera Barat pada hari sabtu tanggal 3 Mei 2014 di Kantor WALHI Riau Jalan Katio No.3 Pekanbaru.

potensi41
Mari mengingat kembali sejarah pembangunan Dam PLTA Koto Panjang. Pembangun dam ini dimulai dengan project finding oleh perusahaan konsultan dari Jepang TEPSCO (Tokyo Electric Power Service Co. Ltd) bulan September dan November 1989. Untuk pembangunan fisik proyek, mulai dilakukan tahun 1991 dan diresmikan pada tanggal 28 Februari 1997. Dam ini memotong aliran Sungai Kampar Kanan dan menggenangi areal seluas 124 km2, dibangun untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas sebesar 114 MW melalui 3 unit turbin. Proyek ini dibiayai dengan dana dalam bentuk utang sebesar 31,2 Miliar Yen dari ODA (Official Development Assistance) Jepang. Pembangunan ini memaksa sekitar 5.000 KK atau 23.000 jiwa masyarakat dari 10 desa yang ditenggelamkan untuk dipindahkan dari kampung mereka yang sangat makmur. Di tempat yang baru mereka mengalami banyak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka mulai dari air bersih, pangan, akses sekolah, akses layanan kesehatan sampai rusaknya tatanan sosial budaya dan tradisi mereka selaku masyarakat Minangkabau.
Rapat koordinasi ini diawali dengan pemaparan proses sidang Kasus Dam PLTA Koto Panjang yang saat ini sedang menunggu keputusan dari Mahkamah Agung Jepang oleh Toyama Katsuhiro selaku Secretary General The Support Action Center For Kotopanjang Dam Victims dan Miho Sakai dari Comparative Public Policy Osaka University. Dari penjelasannya tergambar bahwa proses panjang perjuangan rakyat Koto Panjang masih akan terus berlanjut. Proses persidangan yang telah berjalan hampir 12 tahun ini di Jepang memasuki tahap Mahkamah Agung. Proses hukum ini dimulai pada 5 September 2002 dimana rakyat Koto Panjang mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Tokyo, Jepang. Tergugatnya adalah Pemerintah Jepang, JBIC (Japan Bank for International Cooperation), JICA (Japan International Cooperation Agency) dan TEPSCO (Tokyo Electrik Power Service CO.Ltd) dengan jumlah total penggugat sebanyak 8.396 jiwa bersama WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) atas kerugian masyarakat dan dampak pembangunan bagi lingkungan. Proses peradilan yang belum berpihak kepada korban membuat pengadilan menolak tuntutan bahkan sampai ke Pengadilan Tinggi Tokyo walaupun pengadilan bisa membuktikan terjadinya kerugian bagi masyarakat dan lingkungan akibat pembangunan tersebut. Salah satunya adalah Laporan Pelaksanaan Tim Koordinasi Pemantauan Perkembangan Pelaksanaan Action Plan Koto Panjang yang dibuat BAPENAS RI tahun 2003 dijadikan sebagai alat bukti di Pengadilan Jepang.
Saat ini kita menunggu Keputusan Mahkamah Agung Jepang yang belum tentu akan menang atau kalah namun kita rakyat Indonesia masih bisa menekan Mahkamah agar berpihak dan mengabulkan tuntutan rakyat korban Dam PLTA Koto Panjang dengan mengirim petisi kepada Hakim Mahkamah Agung Jepang. Butuh 100.000 tandatangan untuk petisi ini diterima dan dipertimbangkan oleh hakim Mahkamah Agung Jepang.
Selain menunggu keputusan di Jepang, berdasarkan analisis hukum dan advokasi Eksekutif Nasional WALHI kita masih bisa melakukan upaya lain yaitu mengajukan gugatan “Future Generation Right” yaitu Gugatan Dari Generasi Masa Depan Korban Dam Koto Panjang. Ada beberapa hal yang menjadi dasar tuntutan yakni Penurunan kualitas hidup anak-anak korban karena jauhnya akses pendidikan dan kesehatan dan Fakta hukum yang terbukti di Pengadilan Jepang tentang Kerugian Masyarakat. Tuntutan ini tidak lagi bicara soal ganti rugi tapi lebih menuntut pemerintah Indonesia untuk melakukan pembangun perbaikan kondisi kehidupan masyarakat korban melalui pembangunan fasilitas jalan, jembatan, sekolah dan pusat layanan kesehatan.
Alternatif berikutnya adalah membawa persoalan ini ke Mahkamah International di Genewa. Peluang ini ada karena akhir Juni 2014 akan ada Sidang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (EKOSOB) di Genewa. Pada sidang ini terbuka ruang bagi perwakilan Civil Society Organitation (CSO) untuk menyampaikan pandangannya. Harapannya pada sidang tersebut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) hadir dan menyampaikan tuntutan ini. Dengan tuntutan, Pemerintah Jepang melakukan evaluasi terhadap proyek utang yang mereka berikan yang memiliki dampak menghancurkan sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Tuntutan lainnya adalah terhadap pemerintah Indonesia agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Proyek Dam Koto Panjang dan memenuhi hak masyarakat korban.
Diakhir pertemuan disepakati BP RKDKP (Badan Perjuangan Rakyat Korban Dam Koto Panjang), The Support Action Center For Koto Panjang Dam Victims Jepang, Comparative Public Policy Osaka University, Eksekutif Nasional WALHI, WALHI Riau dan WALHI Sumatera Barat untuk tetap berkomitmen dan berjuang bersama dalam memperjuangkan hak masyarakat korban dan tuntutan untuk perbaikan kawasan penyangga Dam Koto Panjang serta dukungan untuk peningkatan kapasitas masyarakat korban.
Butuh dukungan kita semua untuk memastikan masyarakat korban pembangunan Dam PLTA Koto Panjang diperhatikan dan dipenuhi haknya sebagai warga negara Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: