Polsek Kinali Dinilai Abaikan Putusan MA

Polsek Kinali Dinilai Abaikan Putusan MA
Soal Ganti Rugi Rp 300 Juta pada Korban Penembakan
Padang Ekspres • Rabu, 05/02/2014 10:40 WIB • Redaksi • 186 klik
Pasbar, Padek—Masih ingat dengan kasus penembakan oleh oknum polisi terhadap Iwan Mulyadi, 22, warga Kinali, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) tahun 2006 lalu? Ternyata, Mahkamah Agung (MA) memutuskan Polsek Kinali diwajibkan me¬mbayar ganti rugi immaterial kepa¬da korban sebesar Rp 300 juta. Namun, sam¬pai sekarang Polsek Kinali belum ju¬ga menjalankan keputusan tersebut. Le¬bih memiriskan lagi, korban paska kejadian sampai sekarang sudah lumpuh.

Akibat tak kunjung dieksekusi pu¬tu¬san perdata yang sudah berke¬kua¬tan hukum tetap, Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Sumbar selaku kuasa hukum korban mengadu ke Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI untuk mencari keadilan. PBHI berharap adanya realisa¬si ekse¬kusi terhadap putusan kasus perdata.

”Ya, akibat peristiwa ini kita telah mengadu dan mengirim surat ke Kom¬nas HAM, soal eksekusi putusan per¬da¬ta ganti rugi untuk korban sebesar Rp300 juta yang belum dibayarkan Pol¬sek Kinali/Polres/Polri. Kita harap agar persoalan ini cepat tuntas,” kata Fir¬da¬us, Ketua PBHI Sumbar kepada war¬tawan di Simpang Empat didam¬pingi Sahnan, Adi Matros, baru-baru ini.

Pekan lalu, pihaknya telah menga¬ju¬kan permohonan eksekusi terhadap Polsek Kinali, berdasarkan putusan Mahkamah Agung No 2710 K/PDT/2010 itu. Kemudian diperkuat dengan putusan Pengadilan Negeri Pasaman Barat No. 04/Pdt.G/2007/PN-PSB yang dikuatkan oleh putusan Pengadilan Tinggi Padang No.56/PDT/2009/PT. PDG dan putusan MA No.2710K.PDT/2010 pada tanggal 19 Mei 2011. Di ma¬na, dinyatakan bahwa anggota Polsek Kina¬li, Briptu Nofrizal terbukti mela¬ku¬kan penembakan terhadap Iwan Mul¬yadi yang mengakibatkan kelumpuhan total dan cacat seumur hidup.

Dijelaskan dia, secara teknis Relas I dilakukan pada 21 Januari 2013, lalu relas II pada 20 Agustus 2013, dan relas III pada 21 Januari 2014. Kemudian, putusan MA dilaksanakan 19 Mei 2011. Putusan diterima pada 13 Mei 2012. Dan untuk permohonan eksekusi dila¬lu¬kan pada 13 September 2013.

”Sebenarnya soal pidana terhadap pelaku Briptu Nofrizal telah menjalani hukuman 1 tahun 6 bulan dan meneri¬¬ma sanksi indisipliner. Namun kepada korban, secara perdata immaterial putusan Polsek Kinali wajib menge¬luar¬kan Rp300 juta,” tandas dia.

Atas kejadian ini pula, pihaknya berharap Pengadilan Negeri Pasbar segera mengirimkan surat eksekusi ke Polsek Kinali atau Polres Pasaman Barat agar segera dilaksanakan. Kare¬na, kalau sudah dibayarkan kewajiban itu, tentu korban bisa mempergunakan uang itu biaya berobat. Apalagi, korban kini sangat memiriskan tidak bisa lagi beraktivitas seperti warga seusianya.

Korban kini, hanya bisa duduk di atas kursi roda merenungi dan mera¬ta¬pi nasibnya. Artinya, korban tidak bisa berbuat apa-apa termasuk untuk makan sendiripun sangat suli, kecuali dibantu keluarganya sendiri.

Firdaus, cs sangat menyayangkan Kapolsek Kinali yang sudah tiga kali dipanggil (Relas Anmmaning) oleh Pengadilan Simpang Empat untuk melaksanakan putusan tersebut, tetapi tidak pernah datang memenuhi pang¬gi¬lan itu. Sehingga, putusan Iwan Mulyadi tidak bisa dieksekusi. ”Nam¬pak¬nya belum ada itikad baik dari Polsek Kinali. Karena sudah tiga kali panggilan belum juga dipenuhi untuk eksekusi putusan tersebut,” katanya. Bahkan, pihaknya juga telah men¬desak Pengadilan Negeri Simpang Empat Pasbar segera melakuan ekse¬kusi terhadap putusan Perdata terha¬dap Iwan Mulyadi.

Seperti diketahui, kejadian ini bermula dari laporan tindak pidana pengrusakan rumah milik Edi, 50, warga Jorong Tanjuang Medan Kinali yang diduga dilakukan oleh Iwan Mul¬ya¬di dan temannya, Aken. Berbekal surat perintah No Pol.SP.Dik/01/1/2006/Res Kinali tanggal 20 Januari 2006, Briptu Nofrizal sebagai Kanit Reskrim ketika itu melakukan tindakan gegabah dengan menembakkan senja¬ta revolver ke tubuh Iwan. Timah panas itu tepat mengenai pinggang sebelah kiri tembus ke rusuk kanan atas, se-hing¬¬ga korban pun lumpuh total sam¬pai sekarang. Perbuatan Briptu Nofri¬zal sudah melanggar hukum dan Pol¬sek Kinali sebagai tergugat II berke¬wa¬jiban menjalankan putusan yang su¬dah berhukum tetap tersebut.

Sementara ayah Iwan Mulyadi, Nazar Salegar berharap PN Pasbar secepatnya meelaksanakan putusan itu. Pasalnya, pihak keluarga kesulitan membiayai perobatannya. Apalagi, dirinya hanya bekerja sebagai petani. Sedangkan, istrinya Liader sudah me¬ning¬-gal dunia. ”Saya orang susah be¬ker¬¬ja hanya sebagai petani. Penda¬pa¬tan kami sehari terkadang tidak cukup membiayai hidup. Jadi kami pun sa¬ngat berharap agar uang itu bisa dipe¬ro¬leh guna biaya berobat anak saya,” sebutnya.

Kapolsek Kinali Iptu Ferdi Dakio ketika dikonfirmasi wartawan, Selasa (4/2) melalui via telepon masih belum mau memberikan keterangan lebih jauh atas putusan MA itu. ”Selasa, 11 Februari saya baru menghadap kepada ketua PN, jadi saya belum bisa membe¬rikan konfirmasi,” kata Kapolsek Kinali melalui SMS-nya. (roy)
[ Red/Administrator ]
http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=49630

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: