Waspadai Gunung Api Sumbar Marapi Paling Aktif, Talang dan Kerinci juga Waspada

Waspadai Gunung Api Sumbar
Marapi Paling Aktif, Talang dan Kerinci juga Waspada
Padang Ekspres • Selasa, 04/02/2014 10:23 WIB • Redaksi • 123 klik
Padang, Padek—Setelah letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Ka¬ro, Sumatera Utara, Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sum¬bar mengimbau masyarakat dan pemda di sekitar gunung api di Sum¬bar mewaspadai peningkatan akti-vitas gunung api. Pasalnya, Sumbar memiliki empat gunung aktif, yakni Gunung Marapi, Tandikat, Talang dan Kerinci.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi tim geologi Dinas ESDM Sumbar serta pantauan Pusat Vulka¬nologi dan Mitigasi Bencana Alam Geologi (PVMBG) serta Badan Geo¬logi Bandung, tergambar kalau Gu¬nung Marapi setinggi 2891 Mdpl di Kabupaten Agam dan Tanahdatar paling aktif di Sumbar dengan status Waspada (level II).

Manifestasi kegiatan Gunung Marapi berupa hembusan solfatara aktif dari sejumlah kawah yang ada di kawasan puncak. Terhitung Oktober hingga Desember 2013 telah terjadi letusan sebanyak 125 kali. Walau semburan debu vulkanik belum meng¬ganggu aktivitas warga, namun ini patut diwaspadai.

Hampir serupa dengan Gunung Talang di Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok dengan ketinggian 2597 mdpl, yang kini juga berstatus waspada (level II). Gunung ini tak luput dari pantauan Pos Pengamatan Gunung api di Batubajanjang Keca¬matan Lembang Jaya. Aktivitasnya fluktuatif, dan ancamannya tak boleh dianggap sepele.

Bahkan Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggula¬ngan Bencana (BNPB) merilis, Gu¬nung Talang masuk daftar 19 gunung status waspada dari 127 gunung be¬rapi di Indonesia.

Begitu pula dengan Gunung Ke¬rinci setinggi 3.805 mdpl yang berada di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi dan Kabupaten Solok Selatan dengan tipe strato vulcano. Berdasarkan Pos Pengamatan Gunung Api Kerinci di Desa Kersik Tuo Kayu Aro Kerinci, secara kegempaan sampai De¬sember 2013 masih berstatus waspada (level II).

Sedangkan Gunung Tan¬dikat setinggi 2438 mdpl di Kabupaten Tanahdatar dan Pa¬dang-pariaman, tingkat kegem¬paan di tahun 2013 di zona subduksi pantai barat Sumatera maupun gempa darat sesar Sumatera cukup tinggi, tapi kini tidak menunjukkan aktivitas berarti dan masih berstatus aktif normal (level I).

“Dari keempat gunung ter¬se¬but, saat ini Gunung Marapi terbilang yang paling kita was-padai. Sebab aktivitasnya terus meningkat,” kata Nuzuir, Kepala Bidang Geologi Dinas ESDM Sumbar, kemarin (3/2).

Menurut Nuzuir, data yang dimiliki Dinas ESDM tercatat sejak 3 Agustus 2011 hingga 8 Januari 2014 terjadi letusan 1.326 kali di Gunung Marapi.

Pada 8 Januari lalu letusan Gunung Marapi juga terjadi sebanyak 13 kali, dan 5 kali letusan dengan hembusan asap putih setinggi 200 meter. Kon¬disi letusan tersebut tidak me¬nimbulkan dampak berat ter¬hadap wilayah sekitar, dan ma¬sih tergolong kondusif.

Agar dampak negatif yang timbul akibat letusan gunung dapat diminimalisir, katanya, perlu optimalisasi pemuta¬khi¬ran sistem peringatan dini mi¬tigasi letusan gunung api yang lebih tanggap dari instansi ter¬kait, seperti pemerintah pusat, pemprov dan kabu-paten/kota.

ESDM Sumbar juga me¬ngimbau seluruh pengunjung dan pendaki gunung agar tidak memasuki kawasan Gunung Marapi pada radius 3 kilometer dari kawah atau puncak. “Ka¬wah merupakan pusat letusan dan sumber keluarnya gas-gas vulkanik yang dapat mem¬baha¬yakan,” ingat Nuzuir.

Dia juga mengimbau warga mewaspadai gunung api yang tidak aktif. Dia menilai, gunung itu bukannya tidak aktif, me¬lain¬kan tidur panjang. Suatu saat diprediksi bisa aktif kem¬bali. “Misalnya pada tahun 2012, kami menerima laporan Gunung Sago di daerah Pa¬yakumbuh-Tanahdatar terin¬dikasi aktif. Hal itu diduga aki¬bat adanya pergerakan lem¬pengan Samudera Hindia-Australia yang terus memicu doro¬ngan adanya gempa besar dan kecil di Pulau Sumatera,” ka¬tanya.

Tim ahli geologi ESDM Sum¬bar yang diutus meneliti ke sana, menemukan dua titik hot spot (titik panas) yang dite¬ngarai merupakan kawah baru. Bahkan jauh sebelumnya feno-mena ini juga terekam satelit Google. Beberapa temuan lain¬nya seperti debu vulkanik lama setebal 30 cm berwarna hitam, batuan gunung api trakhitik-andesitik berupa bongkah be¬sar yang mencapai diameter lebih dari 5 meter.

Sekitar 60 meter ke arah timur ditemukan lubang (ce¬lah) dengan kedalaman 60 cm berdiameter 1,5 meter yang sudah tertimbun tanah dan batuan,” papar Nuzuir.

Sementara itu, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumbar Ade Edward meng¬ingatkan masyarakat untuk te¬tap waspada karena Gunung Marapi, Kerinci dan Talang statusnya waspada. Untuk Gu¬nung Sago, katanya merupakan gunung api tipe C yang sudah ratusan tahun tidak aktif. Gu¬nung api tersebut erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia. Namun, masih ter¬dapat tanda-tanda masa kegia¬tan lampau berupa lapangan solfatara dan fomarola pada tingkat lemah.

Soal adanya laporan akti¬vitas dan pembentukan kawah baru, kata Ade, memang ada laporan tersebut. Namun se¬telah dicek ternyata tidak ada.

“Sudah dicek pihak ber¬kompeten, ternyata tidak ada (aktivitas). Sudah ratusan tahun tidak aktif,” kata mantan Kepala Bidang Kedaruratan dan Lo¬gistik BPBD Sumbar ini. (pl1/esg)
[ Red/Administrator ]
http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=49614

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: