Warga Desak Tutup Penambangan

Warga Desak Tutup Penambangan
Proses Evakuasi Korban Tambang Terkendala
Padang Ekspres • Minggu, 26/01/2014 02:15 WIB • Redaksi • 655 klik
Sawahlunto, Padek—Be¬rul¬ang¬nya musibah ledakan tam¬ba¬ng batu bara berada antara Bukit Bual Sijunjung dan Sawahlunto Jumat (24/1) lalu, benar-benar masyarakat setempat terpukul. Bah¬kan, warga Nagari Bukit Bual Koto VII Sijunjung berharap pe-me¬rintah menutup ak¬tivitas pe¬nam¬bangan.
Desakan warga agar aktivitas tam¬bang di perbatasan Sawahlunto dan Bukit Bual Sijunjung itu di¬hentikan, sudah lama disuarakan mas¬yarakat. Pasalnya, keberadaan penambangan batu bara di wilayah itu, tidak mendatangkan ke¬mak¬muran bagi masyarakat. Sebaliknya, menimbulkan pencemaran ling¬kungan.
Wali Nagari Bukit Bual, Otri Wa¬n¬¬di mengakui bahwa pihaknya me¬nyepakati penutupan seluruh ak¬tivitas di Kanagarian Bukit Bual ter¬sebut. “Sebagai warga, kami tidak sedikit pun merasakan keuntungan atas keberadaan tambang batu bara tersebut.
Sejak aktivitas per¬tam¬ba¬ngan dimulai di kawasan ter¬sebut, nagari (Bukit Bual, red) tidak pernah diuntungkan. Jadi, sebaiknya tutup saja tambang tersebut,” ungkap Otri ketika dihubungi Padang Ekspres, di Sijunjung, kemarin (25/1).
Otri menyebut bahwa para pe¬laku tambang tidak pernah mem¬perhatikan lingkungan. Bah¬kan beberapa pemilik tam¬bang, sebut Otri, membabat kayu secara mem¬babi buta un-tuk ram atau tiang penyangga da¬lam lobang tambang. “Be¬lum lagi bahan bakar minyak yang digunakan untuk kepentingan per¬tambangan, kita lihat meng¬gu¬nakan minyak ber-sub¬si¬di,” sebutnya.
Wali nagari yang gencar men¬¬yoroti aktivitas tambang ba¬tu bara di wilayah itu men¬ce-ritakan, Maret 2013 lalu warga Na¬gari Bukit Bual sudah men¬yurati pemerintah dae¬rah Si¬junjung agar me¬nin¬daklanjuti laporan masyarakat Bukit Bual terkait limbah perusahaan batu bara yang telah merusak lahan pertanian warga setempat. Na¬mun, pe¬me¬rin¬tah daerah tidak me¬nin¬daklanjuti sampai saat ini.
Pengakuan Otri, lahan per¬ta¬nian yang tidak bisa di¬man¬faatkan lagi oleh warga untuk bertani, mencapai 8 ha akibat tertimbun limbah. Di mana kondisi tersebut, menurut Otri, sudah berlangsung lima tahun terakhir.
“Masyarakat sudah pernah menyampaikan keluhan itu kepada pemerintah, namun belum digubris. Padahal lim¬bah semakin meluas merusaki areal pertanian warga, men¬ce¬mari aliran sungai yang juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk banyak hal. Itulah se-babnya kami sangat sepakat tambang itu ditutup, karena hanya akan merugikan warga,” pungkas Otri.
Terakhir Otri juga men¬yo¬roti masalah perizinan pe¬ru¬sa¬haan tambang batu bara di wilayah PT Dasrat Sarana Arang Se¬jati. Pengakuan Otri, masalah per¬batasan wilayah kedua dae¬rah (Sawahlunto dan Si¬jun¬jung), sampai sekarang belum je¬las statusnya. “Wilayah tam¬bang yang meledak itu sampai saat ini belum jelas, apa wilayah Sijunjung atau Sawahlunto,” sebutnya.
Pemkab Sijunjung pun, me¬nurut Otri, belum memberikan ke¬jelasan kepada masyarakat soal batas wilayah lokasi tam¬ba¬ng yang meledak, Jumat (24/1) lalu.

Memakan Waktu Lama
Di sisi lain, sehari pas¬ca¬me¬ledaknya tambang batu bara di wilayah Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi milik PT Dasrat Sa¬rana Arang Sejati yang dike¬lo¬la CV Kuta laga Citra Jasa, petugas BPBD Sijunjung dan Sawahlunto, aparat kepolisian dan masyarakat setempat ma¬sih kesulitan mengevakuasi ke¬empat korban yang terjebak di dalam lubang tambang. Pa¬sal¬nya, timbunan material longsor dalam lobang tambang, ter¬nya¬ta mencapai 70 meter.
Keempat korban tewas yang terjebak dalam lubang tambang itu adalah, Komarudin, 30, warga Tanjungampalu, Ke¬ca¬ma¬tan Koto VII Sijunjung, An¬ton, 30, warga Nagari Bukit Bual Koto VII Sijunjung, Ucok, 35, warga Nagari Bukit Bual, dan Irfan, 30, warga Bengkulu. Satu korban tewas lainnya bernama Edi Guru, 31, warga Jorong Em¬pat Jalan Baru, Nagari Bual su¬dah dievakuasi sesaat setelah ke¬jadian usai tubuhnya ter¬lem¬par dan terpisah dari keempat kor¬ban lainnya.
Informasi yang diperoleh Padang Ekspres dari sumber terpercaya di lokasi kejadian, upaya pekerja tambang dan petugas BPBD yang dibantu Ba¬sarnas Sumbar me-ngevakuasi korban terhambat akibat pan¬jangnya lorong lobang yang ter¬timbun material longsor.
“Lorong yang tertimbun longsor persisnya tidak bisa dite¬bak, namun perkiraan lo¬ba¬ng yang tertimbun mencapai 70 meter,”ungkap sumber Padang Ek¬spres di lokasi kejadian.
Sebelumnya, informasi soal panjang lorong yang longsor masih simpang-siur. BPBD Sa-wah¬lunto awalnya mem¬per¬ki¬rakan lorong yang longsor ha¬nya 10 meter, sementara in-formasi lainnya mengatakan ham¬pir 20 meter. Namun in¬for¬masi terkini yang diperoleh Padang Ekspres kemarin (25/1), pan¬jang lorong yang sudah be¬bas dari material longsor sudah mencapai 10 meter, namun tubuh keempat korban belum juga terlihat.
Pantauan Padang Ekspres di lokasi kejadian siang kemarin, petugas BPBD yang dibantu Ba¬sarnas bersama pekerja tam¬bang terus berusaha me¬nge¬luar¬kan material longsor. Se-men¬tara warga dari Sawahlunto dan Bukit Bual Sijunjung terus berdatangan melihat proses evakuasi. “Petugas dibantu para pe¬kerja tambang di lokasi ma¬sih terus berusaha me¬nge¬luar¬kan material longsor,” ungkap Ke¬pala BPBD Sijunjung Har¬di¬wan di lokasi kejadian, ke¬marin.
Sementara itu, Kepala BP¬BD Sawahlunto, Deswanda, ke¬tika dihubungi Padang Ekspres tadi malam sekitar pukul 20.45 wib, melalui pesan singkat men¬jawab,”Sekarang pekerja tambang dan petugas masih berusaha mengeluarkan material longsor dan me¬ma-sang ram atau tiang penyangga di ¬dalam lubang,”jawabnya.

Masih Diselidiki
Sementara itu, Polres Sa¬wah¬lunto tidak tinggal diam pascameledaknya tambang ter-sebut. Petugas kepolisian da¬lam waktu dekat melakukan pe¬n¬yelidikan. Tidak menutup ke¬mungkinan, polisi me¬ne¬tap¬kan tersangka bila ditemukan usur kelalaian dalam pe¬nam-bangan.
“Tentu saja penyelidikan akan dilakukan. Setelah me¬ngum¬pulkan bukti-bukti, orang-orang yang dinilai tahu dan bertanggung jawab dari le¬da¬kan itu akan dipanggil satu per satu,” kata Kapolres Sawahlunto AKBP Syafrial kepada RPG.
Petinggi PT Dasrat Sarana Arang Sejati Emeldi kepada RPG memastikan areal per-tambangan yang dimilikinya mengantongi izin yang lengkap. “Perusahaan saya memiliki izin ya¬ng jelas. Kalau tidak percaya, cek saja ke Dinas Per¬tam¬ba¬ng¬an. Secara teknis, kita ber¬ta¬ng¬gung jawab atas insiden ini,” kata Emeldi kepada RPG. (h)
[ Red/Administrator ]
http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=49471

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: