Tambang Meledak, Lima Tewas Diduga Ada Percikan Api saat Perbaikan Ventilasi (2)

Tambang Meledak, Lima Tewas
Diduga Ada Percikan Api saat Perbaikan Ventilasi (2)
Padang Ekspres • Sabtu, 25/01/2014 10:49 WIB • Redaksi • 367 klik
(baca berita sebelumnya – 1)

Bos Tambang bisa Tersangka
Kepala Bidang Humas Polda Sumbar AKBP Syamsi di Padang mengatakan, jajarannya masih menyelidiki kasus meledaknya tambang di Kota Sawahlunto yang mengakibatkan lima orang tewas. Dari informasi yang didapatnya, lokasi tambang batu bara tersebut merupakan tambang resmi. Namun bagaimana pastinya, Polda Sumbar sudah menurunkan tim ke lapangan untuk melakukan penyelidikan.

Menurut Syamsi, pihaknya juga akan memanggil bos tambang atau pengelola tambang tersebut untuk dimintai keterangan seputar kejadian. Namun dalam kasus itu, Syamsi menduga bisa jadi pekerja tambang tidak dilengkapi pengaman sehingga membahayakan keselamatan. Jika itu terjadi, tentu yang bertanggung jawab penuh adalah pengelola tambang.

“Bila dalam penyidikan ditemukan adanya unsur kelalaian, pembiaran dan kesengajaan sehingga mengakibatkan nyawa orang melayang, bisa jadi bos tambang atau pengelola ditetapkan sebagai tersangka dalam insiden itu. Makanya, kita akan memanggil bos tambang untuk dimintai keterangan dan saksi-saksi lainnya,” ujar Syamsi.

General Manager PT BA UPO Sawahlunto, M Jazuli mengakui bahwa dalam lubang tambang terdapat berbagai macam gas tambang yang sangat berbahaya, salah satunya gas metan. Hanya dipicu lampu kamera (tustel) saja, bisa menimbulkan ledakan dahsyat. “Melihat jasad korban tewas yang mengenaskan, menandakan dalam lubang tambang masih terdapat gas metannya,” kata Jazuli yang sudah berpengalaman di lubang tambang.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumbar, Ade Edwar mengatakan, tambang batu bara bawah tanah di Ombilin rentan meledak bila terpecik api. “Apakah itu api rokok, listrik atau barang-barang yang bisa menimbulkan percikan api,” jelasnya.

Agar kejadian ini tidak terulang lagi, dia berharap, pekerja tambang rakyat seperti ini harus melengkapi diri dengan alat pengaman tambang, salah satunya alat sensor metan. Kalau ada gas metannya, maka sensor itu akan berbunyi.

“Bisa jadi mereka tidak dilengkapi dengan alat pengaman yang cukup, sehingga tidak mengetahui ada gas metan menumpuk di lokasi. Nah, kebetulan ada pula percikan api, maka terjadilah ledakan,” bebernya.

Dia memperkirakan proses evakuasi membutuhkan waktu lama, karena besarnya risiko sekitar lokasi ledakan. Tim rescue akan memasukan udara segar dari luar untuk dipompa ke dalam sehingga turun kadar gas metannya. Belum lagi bila tim membutuhkan penguatan terowongan, jelas membutuhkan waktu lagi. “Kita perkirakan proses evakuasi bisa membutuhkan waktu sekitar tiga hari, karena faktor-faktor tersebut,” sebutnya.

Kepala Dinas ESDM Sumbar Marzuki Mahdi mengatakan, pihaknya telah mengirim tim inspektur tambang ke lokasi ledakan, guna mencari penyebab ledakan. Namun, menurut informasi yang diperoleh dari tim di Sawahlunto, diduga ledakan terjadi akibat timbulnya percikan api dari blower, saat pekerja memperbaikinya.

Blower, menurutnya berfungsi sebagai ventilasi untuk mencuci udara di dalam lubang untuk dibawa ke luar. Manakala blower rusak atau penyemprotan angin segar dari luar ke dalam lubang terkendala, maka akan terjadi peningkatan kepekatan gas metana dalam lubang tersebut. “Ini kita masih menduga-duga. Yang jelas, karena ada percikan api, maka timbul ledakan,” bebernya. Dia juga mengamini tambang itu legal dan memiliki izin usaha pertambangan (IUP) atas nama PT Dasrat Sarana Arang Sejati.

Pelaksana Tambang Dihukum
Sebagaimana diketahui, pada 16 Juni 2009, tambang batu bara di Ngalau Cigak, Talawi Sawahlunto menewaskan 33 pekerja. Polisi pun mengusut kasus tersebut hingga sampai ke pengadilan.

Pemilik KP PT Dasrat Sarana Arang Sejati ketika itu H Emeldi, sedangkan pelaksana pertambangan yakni CV Perdana dipimpin Agustar sebagai Direktur. Majelis hakim Pengadilan Negeri Sawahlunto yang dipimpin Abdul Bari A Rahim dengan anggota Andi Hendrawan dan Eko Julianto, dalam sidang lanjutan yang digelar pada Senin (5/4) tahun 2010, memvonis Agustar 1 tahun penjara. Lebih rendah dari tuntutan jaksa, 2 tahun 6 bulan.

Mendengar putusan, akhirnya jaksa banding. Pada Mei 2010, Pengadilan Tinggi Padang memvonis Agustar 3 tahun penjara. Majelis hakim banding diketuai Anasroel Haroen dengan anggota H. Arief Purwadi dan Hj. Elnawisah. Putusan Nomor 73/Pid/2010/PT.Pdg tertanggal 24 Mei 2010 itu diterima Pengadilan Negeri Sawahlunto pada 3 Juni 2010.

Jaksa mendakwa Agustar dengan Pasal 359 KUHP kelalaian yang menyebabkan orang mati, dan pasal 360 ayat 2 KUHP kelalaiaan yang menyebabkan orang luka.

Dalam putusan di PN, majelis hakim menyatakan barang bukti dikembalikan kepada jaksa penuntut umum untuk dipergunakan dalam perkara lain. Pemilik KP waktu itu sempat diproses di Polda Sumbar, tapi berkasnya bolak-balik ke Kejati Sumbar, lalu ke Polda lagi. (h/t/hry/wn/eri)
[ Red/Administrator ]
http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=49453

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: