Demi Uang Rp 90 Ribu, Nyawa Taruhannya

Demi Uang Rp 90 Ribu, Nyawa Taruhannya
Padang Ekspres • Minggu, 26/01/2014 02:09 WIB • Redaksi • 539 klik

Usaha penambangan batu bara di Bukit Bual perbatasan Sijunjung-Sa¬wahlunto, benar-benar menggiurkan. Na¬mun, di balik itu juga tersimpan risiko yang terlalu besar. Seperti apa risiko yang dialami para penambang di Bukit Bual itu?

Adalah Yanto, 43, mantan pekerja tam¬bang asal Kota Sawahlunto me¬nu¬tur¬kan pengalamannya selama me¬nambang di Bukit Bual. Di sela-sela pro¬ses visum salah seorang korban te¬was di Bukit Bual, Jumat (24/1), Yanto me¬nilai, kembali makan korbannya tam¬bang batu bara di Bukit Bual, bu¬kanlah hal yang mengejutkan. Pasalnya, se¬be¬narnya sudah tak terbilang korban tewas di dalam lubang.

Jadi, tidaklah mengherankan para pe¬nggali batu bara saat beraktivitas da¬lam lobang, kerap mendapati tulang belulang dalam lubang. Kuat dugaan, itu tak lain tulang manusia. “Sulit dipastikan, apakah tulang itu masih baru, atau sudah lama. Yang pasti bila hal ini dialami pekerja, mereka pun beralih menggali ke titik lain,” ujar Yanto.

Seperti diketahui, tragedi ledakan tambang pada Jumat (24/1) sekitar pukul 11.00 memakan lima korban tewas. Namun sampai kemarin, baru seorang berhasil dievakuasi. Selebihnya, masih terjebak dalam lubang sedalam 150 meter itu.

“Kalaulah tidak karena pahitnya hidup, pastilah tidak akan mau orang bekerja sebagai penambang di Bukit Bual. Risikonya terlalu besar. Selain harus menguras energi hingga ber¬mandikan keringat dalam lubang yang sempit, tubuh ini pun dihantui kecemasan,” beber bapak tiga anak tersebut.

Selama lebih dari empat tahun menambang di Bukit Bual, menurut Yanto, tidak terbilang entah sudah beberapa kali rekan-rekannya hilang begitu saja dalam lubang. Untuk menghapus air mata keluarga korban, pengusaha tambang biasanya memberikan uang santunan. Dari sekian banyak kasus, selalu didiamkan saja.

Rata-rata para buruh tambang, kata Yanto, diberi upah oleh pengusaha sebesar Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu per hari, atau digaji dengan sistem borongan. “Mereka bekerja dengan sistem shif, ada shif pagi, siang, dan malam. Bila dihitung, jumlah penambang yang bekerja setiap harinya pada satu lubang bisa mencapai lebih dari 100 orang. Makanya, patut jugalah bersyukur korban kali ini hanya lima orang,” imbuhnya.

Bukit Bual merupakan sebuah areal perbukitan yang mengandung banyak batu bara, dibandingkan lokasi lainnya. Lokasinya cukup jauh dari pemukiman penduduk, yakni perbatasan Kota Sawahlunto- Kabupaten Sijunjung. Untuk dapat menuju ke sana, harus menempuh jalan buruk. Setiap harinya jalan itu dilalui truk-truk pengangkut batu bara.

Para pekerja umumnya berasal dari Talawi, Tanjung Ampalu, dan sebagian lainnya dari luar Sumbar, seperti Bengkulu, Jawa. Selama menambang mereka tinggal bersama, dan mendirikan tenda dari dari terpal. “Kalau mau ke sana, baiknya melewati Tanjung Ampalu, Kabupaten Sijunjung saja. Ketimbang melalui Talawi, Kota Sawahlunto, medan jalannya cukup parah,” pungkas Yanto. (***)
[ Red/Administrator ]
http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=49470

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: