Libatkan Masyarakat Berantas Pembalakan Liar Fahrudin, Pahlawan Penyelamat Lingkungan dari Pasaman

Ilustrasi | Foto: pakagri.blogspot.com |

Ilustrasi
| Foto: pakagri.blogspot.com |


Padang Ekspres • Senin, 11/11/2013 11:18 WIB • Eri Mardinal • 192 klik
Fah¬rudin Tanjung adalah contoh pahlawan masa kini. Tersentuh melihat rusaknya lingkungan di daerah tempat tinggalnya, warga Salibawan, Nagari Sundata, Keca¬matan Lubuksikaping Kabupaten Pasaman bertekad memperbaiki lingkungan dan mengembalikan fungsi hutan.

Di usianya yang tidak muda lagi, Fahrudin masih memiliki kepe¬du¬lian tinggi terhadap penyela¬matan lingkungan. Pekerjaan itu dila¬koninya dengan sukarela. Bahkan, dia rela menyerahkan apa yang dimilikinya dalam upaya penye¬lamatan lingkungan.

Tak hanya itu, kecintaan dia terhadap lingkungan, bukanlah tanpa risiko. Kegigihannya untuk menyelamatkan lingkungan dengan menindak pelaku pembalakan liar, terus mendapat pertentangan dari orang yang berseberangan dengan¬nya. Berkat kegigihan dan keuletan, akhirnya masyarakat sekitar mulai bersahabat dengannya.

Dia memulai pekerjaan itu dari merehabilitasi lahan kritis dengan menanam aneka tana-man pohon. Tahun 2002, di Lembah Bukit Jorong IV Sali¬bawan, mulailah dia mela-kukan pembibitan kemudian menjalur dan melubang di sekitar sungai Batang Pe¬nyia-ngan yang me¬ngalir di daerah itu. Lokasi ter¬sebut berjarak sekitar 4 Km dari tempat ting¬galnya.

Tahun berikutnya, 2003, lahan sekitar 4 hektare mulai ditanam bibit kayu Mahoni seba-nyak 2.000 batang. Tak mudah baginya melakukan pekerjaan ini. Sebab, setiap hari dia harus bekerja sekitar 8 jam guna me¬na¬n¬ami lahan kritis itu. Ini men¬jadi tanaman utamanya dalam gerakan peng¬hijauan. Namun, tetap diselingi tanaman konse¬r¬va¬si seperti Mahoni, Karet, dan lainnya.

Kegiatan ini terus berlan¬jut. Di tahun 2007, dia melan¬jutkan dengan merehabilitasi sekitar 50 hektare lahan kritis. Ditanaminya mahoni, karet, dan sungkai se¬hing¬ga lahan persawahan yang dulu keku¬rangan air saat ini telah pro¬duktif. Tak hanya itu, benca¬na galodo/banjir yang hampir setiap tahun terjadi bisa di¬mi¬nimalisir.

Tak hanya itu, guna men¬cegah terjadinya pembalakan liar, dia merangkul masyarakat seki¬tar dengan membentuk kelom¬pok tani (keltan) ber¬nama Keltan Hijrah.

Bersama keltan itu, mereka menggarap lahan kritis yang dimiliki ulayat dengan meng-ajak masyarakat berhenti me¬la¬¬kukan penebangan liar dan ladang berpindah. Serta me-normalkan kuantitas su¬ngai Batang Pe¬nyiangan sehingga dapat meng¬airi persawahan.

Dampaknya, penebangan liar saat ini sudah berhenti, ladang berpindah–pindah se¬karang sudah menjadi kebun karet dan coklat yang ber¬kualitas dan bermutu baik sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Saat ini masyarakat terutama ibu-ibu sudah banyak ikut membantu suami di kebun dan turut membantu pereko¬nomian keluarga.

“Berkat kesungguhan dan kesabaran, ratusan hektare la¬han-lahan kritis itu secara ber-angsur–angsur berhasil dihi¬jaukan kembali. Mudah–muda¬han perekonomian ma¬syarakat bisa menjadi baik,” harapnya.

Saat ini, bersama Keltan Hijrah, dia banyak mem¬beri¬kan masukan–masukan dan penga-jaran bagi anggotanya dan ma¬sya¬¬rakat dalam pe¬nang¬gulangan bencana alam, seperti longsor yang sering terjadi di kampung ini pada beberapa tahun lalu.

“Saya sangat prihatin me¬lihat kerusakan lingkungan karena penebangan liar yang dilakukan masyarakat sekitar terhadap hutan. Sehingga tim¬bul niat merehabilitasi lahan kritis de¬ngan menanam pohon serta mengarahkan masya¬rakat me¬nanam. Perlahan-lahan aktivitas penebangan liar bisa dihentikan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, pelesta¬rian hutan melibatkan partisi¬pasi masyarakat jauh lebih berhasil daripada sepihak oleh istitusi. Karena masyarakat sekitar hutan lebih mengerti karakteristik hutan di wilayah¬nya, misalnya topografi, iklim, tanah, sosial dan budaya ma¬syarakat setempat.

Kurang tepat apabila ma¬syarakat hanya dilibatkan da¬lam penanaman saja. Par¬tisipasi akan berjalan optimal ap¬a¬bila masya¬rakat mulai di¬ajak dari proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksana, pengawasan dan evaluasi sua¬tu kegiatan.

Mereka akan terdorong me¬nyukseskan program peles¬tarian lingkungan karena ke¬be-radaan mereka mendapat porsi di kegia¬tan tersebut. Misalnya diajak mengambil keputusan, bahwa mereka merasa diberi tanggung jawab dan lain-lain.

Atas dedikasinya yang ting¬gi dalam menjaga dan menye¬la¬matkan lingkungan, maka Pem¬kab Pasaman mem¬beri¬kan pia¬gam penghargaan da¬lam lomba penghijauan dan konser¬vasi alam dan penerima penghar¬gaan Kal¬pataru Kate¬gori Perintis Ling¬kungan Ting¬kat Sumbar. (eri)
[ Red/Administrator ]
http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=48358

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: