Hari Ini Pengembalian Kalpataru

Hari Ini Pengembalian Kalpataru 

Diterbitkan: 13:20, 4 September 2013 34 kali dibaca

 

MEDAN | KONSTRUKTIF – Aksi pengembalian berbagai penghargaan yang pernah diterima oleh para pejuang lingkungan Marandus Sirait, peraih Kalpataru 2005,  Hasoloan Manik peraih Kalpataru 2010 dan Wilmar Eliaser Simanjorang, peraih Danau Toba Award kepada jajaran pemerintah dari level provinsi hingga pemerintah pusat, merupakan sebuah gerakan moral. 

Pengembalian penghargaan dari gubernur Sumatra Utara telah dilakukan awal Agustus 2013 yang lalu. Selanjutnya pada tanggal 3 September 2013 ini, Para pejuang lingkungan tersebut akan mengembalikan penghargaan yang mereka terima dari kementerian dan presiden.

Kusnadi, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Utara mendukung aksi tersebut, dan mengharapkan agar pemerintah memaknai aksi tersebut sebagai bentuk dukungan, konsen dan konsensus serius mereka terhadap upaya penyelamatan lingkungan. “Pemerintah jangan memaknai sebaliknya,” tegasnya.

Dikatakannya, pemerintah harus mendukung aksi ke 3 pejuang lingkungan ini, karena upaya yang mereka lakukan sangat tulus, semata demi penyelamatan lingkungan.  Kusnadi mempersamakan aksi ini sebagai gerakan kultural (cultural movement). 

“Bentuk dukungan pemerintah dalam jangka pendek adalah segera menghentikan berbagai bentuk perusakan terhadap hutan di sekitar kabupaten yang mengelilingi Danau Toba  (Tobasa, Samosir, Dairi, Simalungun, Karo, Taput, Humbanghasudutan) dengan mengevaluasi berbagai bentuk per izinan yang ada terkait dengan pemanfaatan hutan ( timber dan non timber),” harap Kusnadi.

Apalagi, kata Dia, paska keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) No 35 tentang hutan adat, Presiden seharusnya segera mengeluarkan Inpres yang berisi tentang penghentian sementara kepada seluruh aktivitas korporasi  yang bermasalah dengan persoalan status hutan adat.

Adapun bentuk dukungan politis yang dapat dilakukan oleh lembaga DPR Provinsi kepada para pejuang lingkungan yang mengembalikan penghargaan tersebut dapat dilakukan dengan mengesahkan rencana tata ruang wilayah provinsi (RTRWP) Sumatera Utara.

Di samping itu, harap Kusnadi, harus dipastikan juga bahwa  dalam penyusunan kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) sebagaimana amanat UU No32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup,  melibatkan banyak pihak dan di pedomani dalam arah pembangunan  sebagaimana arti KLHS  adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.

“Apa yang dilakukan oleh para pejuang lingkungan tersebut hendaknya dijadikan titik awal perubahan dan mind set tentang gerakan penyelamatan lingkungan bagi anak bangsa. Jadi sekali lagi pemerintah tidak perlu malu atau terpukul dengan aksi tulus mereka,” ujarnya.

Kusnadi mendorong agara para menteri seperti kementrian lingkungan hidup, menteri kehutanan dan presiden harus berani menerima langsung pengembalian penghargaan tersebut dan mengundang para anggota kabinet  lain untuk menghadiri pengembalian tersebut sebagaimana dulu pada saat penghargaan tersebut diberikan kepada mereka. (Poltak Simanjuntak).

http://hariankonstruktif.com/2013/09/04/hari-ini-pengembalian-kalpataru/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: