Mencengangkan, Pemodal Kuasai 463 Ribu Lahan di Provinsi Bengkulu

Ilustrasi | inilah.com |

Ilustrasi
| inilah.com |

Bengkulu – Maju sih boleh-boleh saja, tapi kemajuan itu jangan sampai keblinger, artinya malah merugikan, entah itu dalam hal penguasaan lahan maupun kualitas hidup masyarakatnya. Seperti di Provinsi Bengkulu, industri memang berkembang pesat, sangking pesatnya pemodal di sana menguasai 463 ribu Ha lahan Bengkulu. Lalu rakyat dapat apa?

“Industri di Bengkulu masih belum banyak kalau kita bandingkan dengan wilayah provinsi lain,” terang Eksekutif Walhi Bengkulu, Beni Ardiansyah. Namun, lanjutnya, penguasaan lahan oleh pemodal sudah sangat massif.

“Luas Provinsi Bengkulu 1.987.870 Ha dengan jumlah penduduk mencapai 2 juta jiwa. Areal Peruntukan Lain (APL) hanya 1.057.906 ha,” bebernya.

Nah, dari 1.057.906 ha APL itu, yang dikuasai oleh pemodal telah mencapai 463.964,54 Ha. Jadi hanya tersisa 593.942 Ha lahan untuk masyarakat Bengkulu, baik untuk pemukiman, jalan, perkantoran, pertanian dan lain-lain.

Lalu masyarakat dapat apa? Masyarakat di Bengkulu mendapatkan “bonus” yang takkan terlupakan dalam hidup mereka. Apa itu? Potensi penyakit dan kualitas hidup yang rendah, yang mungkin saja ditimbulkan oleh limbah-limbah industri.

Menurut Beni, aktivitas industri yang paling besar di Propinsi Bengkulu adalah penambangan batubara dan indutri pertanian/perkebunan.

Penambangan batubara bisa mempengaruhi mutu air di Daerah Aliran Sungai Bengkulu-Lemau, Seluma Atas dan Dikit Seblat.

“Pengaruh industri batubara antara lain meningkatkan zat padat tersuspensi, zat padat terlarut, kekeruhan, zat besi, sulfat dan ion hidrogen dalam air yang dapat menurunkan pH,” ungkapnya.

Kemudian limbah perkebunan, terutama karet dan kelapa sawit. Akibat aktivitas ini terjadi peningkatan senyawa organik pada air, adanya sisa-sisa pestisida di DAS, peningkatan zat pada tersuspensi dan terlarut, peningkatan kadar amonia, peningkatan kadar minyak dan lemak, mempengaruhi pH dll.

“DAS yang terkena aktivitas ini adalah DAS Dikit Seblat, DAS Bengkulu-Lemau, badan sungai Pisang (Ipuh), sungai Betung (Muko-muko), Sungai Simpang Tiga (Tais), Sungai Bengkulu, dan Sungai Sinaba (Ketahun),” terangnya lagi.

Nah, bisa Anda bayangkan apa dampaknya jika masyarakat di sana memanfaatkan air itu untuk kehidupan sehari-hari.

 

Sumber: suaraagraria.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: