Penjarah Hutan Marak di Kuranji

Ilstrasi | analisadaily.com |

Ilstrasi
| analisadaily.com |

3 Kubik Kayu Disita, Cukong tak Tertangkap

Kuranji – Banjir bandang dan kekeringan yang melanda Kecamatan Kuranji sejak setahun terakhir, tidak lantas menghentikan praktik penjarahan hutan di kawasan tersebut.

Aksi pembalakan liar (illegal logging) di kawasan perbukitan Kuranji, hingga kini tetap saja marak. Menyikapi itu, Polsek Kuranji merazia pelaku illegal logging di Kampungguo dan Kampung Pasalalang kemarin (27/6).

Dalam razia itu, petugas kepolisian hanya mengamankan satu becak motor kayu ilegal siap jual sebanyak 3 kubik. Sedangkan pemilik kayu, berhasil melarikan diri. Kapolsek Kuranji Kompol Masrial kepada Padang Ekspres di Mapolsekta Kuranji, kemarin, mengatakan, kawasan perbukitan di Kuranji hingga kini maish menjadi sasaran pembalakan kayu ilegal. “Seperti Kampungguo, kayu tebangan itu dibawa turun ke kampung ini dan dipasarkan ke pihak-pihak tertentu,” ujar Masrial.

Masrial menduga razia yang mereka gelar telah bocor ke telinga para pembalak kayu ilegal sehingga hanya menemukan satu betor. Sementara para pelakunya, diduga kabur ke arah perbukitan.

“Kami sudah cari dan cek sekitar lokasi, namun pelakunya sudah melarikan diri dan meninggalkan barang bukti 3 kubik kayu dan betor,” ujar Masrial.

Masrial berjanji akan guna mengungkap siapa dalang di balik praktik illegal logging di kawasan Kuranji. “Kami akan patroli rutin di perkampungan yang disinyalir tempat lalu lalang kayu ilegal,” tegas Masrial.

Bos Kayu tak Tersentuh

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Peternakan Kehutanan dan Perkebunan Padang, Heryanto Rustam mengatakan telah menginstruksikan kepada lurah serta camat agar terlibat dalam mengamankan kayu-kayu illegal logging.

“Kami akan terus melakukan kerja sama dengan semua pihak, seperti dengan aparat berwajib untuk penanganan illegal logging. Bila berhasil menangkap pelaku dan bos kayu, akan diberi reward,” ujar Heryanto.

Heryanto menduga praktik illegal logging di Padang ada keterlibatan bos-bos kayu yang selama ini tidak pernah tersentuh. “Selama ini, yang disita hanya barang buktinya saja. Sedangkan siapa pemilik dan pelakunya tidak diketahui,” ujarnya.

Koordinator Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Sumbar, Desriko mengatakan, penebangan hutan tidak berizin tersebut adalah kejahatan berantai karena melibatkan tenaga penebang, tukang angkut, penadah dan bos-bos kayu.

Realitasnya, kata Desriko, penangkapan dan penertiban pembalakan liar hanya terjadi pada kroco-kroco. Seperti, para penebang dan tukang angkut. Sedangkan bos-bos kayu tidak pernah tersentuh.

“Tukang angkut yang pernah ditangkap, sebenarnya sudah bisa menjadi pintu masuk bagi kepolisian untuk mengungkap kasus tersebut,” kata Desriko.

Secara umum, laju kerusakan hutan di Sumbar per tahun mencapai 8.769 hektare. Itu tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Sumbar. “Salah faktor utamanya ulah manusia,” sebut Desriko.

Sumber: Padang Ekspres

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: