Mentawai Darurat Banjir

Banjir di Dusun Maonai | Foto: Padang Ekspres |

Banjir di Dusun Maonai
| Foto: Padang Ekspres |

Satu Orang Tewas, Kerugian Capai Rp 10 M

Mentawai – Banjir yang melanda Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai membuat daerah tersebut benar-benar lumpuh. Jumlah pengungsi terus bertambah menjadi 1.312 kepala keluarga (KK) atau 10 ribu jiwa dengan total kerugian diprediksi Rp 10 miliar. Terhadap kondisi itu, Pemkab menetapkan Mentawai darurat banjir selama satu 10 hari, terhitung sejak kemarin (8/4).

Penetapan darurat banjir itu disampaikan Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet kemarin, sekitar pukul 17.00, usai melakukan pemantauan lokasi banjir di Kecamatan Siberut Selatan. “Kita prediksi banjir tidak sebesar ini. Kita perlu melakukan pantauan langsung di beberapa titik banjir di Kecamatan Siberut Selatan. Kenyataannya, beberapa fasilitas umum lumpuh, seperti sekolah, jembatan dan jalan putus,” jelas Yudas kepada Padang Ekspres saat mengunjungi Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan.

Yudas mengakui banjir kali ini yang terbesar selama hampir 30 tahun di Siberut. Tinggi banjir mencapai tiga meter. “Biasanya hanya sebatas lutut orang dewasa, dan beberapa jam surut kembali. Kita sudah melakukan koordinasi dengan semua dinas bersangkutan untuk melakukan evakuasi terhadap para korban. Bantuan juga sudah menyentuh ke semua dusun yang dilanda banjir meskipun belum maksimal,” ujarnya.

Selama masa tanggap darurat selama 10 hari ke depan, Bupati mewanti-wanti semua tim medis, baik dokter, bidan, dan perawat di Pulau Siberut dilarang ke luar Mentawai. Semuanya tetap fokus memberikan pelayanan maksimal terhadap korban banjir.

Ketua DPRD Mentawai, Hendri Dori Satoko menyatakan ada seorang korban tewas di Desa Saibi, Kecamatan Siberut Tengah. “Informasi ini baru kita terima,” katanya.

Kepala BPBD Mentawai, Elisa Siriparang mengklaim bantuan logistik sudah menyentuh seluruh pelosok pedalaman sore kemarin. Untuk Dusun Salappak, bantuan sudah menyentuh 97 KK, di Dusun Mabosi sebanyak 25 KK, dan Dusun Bekeluk 23 KK setelah empat hari terendam banjir.

“Tiga dusun ini bukannya tidak diperhatikan pemkab, tapi karena memang akses menuju dusun itu sangat sulit. Pagi tadi (kemarin, red) sudah kita coba mendistribusikan bantuan meng­gunakan speedboat kapasitas mesin 15 PK, tapi tidak sanggup karena arus sungai cukup deras. Baru tadi sore (kemarin, red) bantuan bisa didistribusikan menggunakan speedboat dengan mesin ber­kapasitas 80 PK,” jelasnya.

Hingga kemarin, bantuan dari Pemprov belum sampai ke Mentawai. “Cuaca masih ekstrem, dikhawatirkan kapal dari Padang yang membawa sembako dihadang badai. Jika minggu ini Kapal Ambu-Ambu atau Gambolo tidak datang ke Siberut, stok sembako untuk korban banjir dipastikan habis. Kita sangat berharap bantuan semua pihak,” harapnya.

Kepala Puskesmas Siberut Selatan, Toni Rusli menyatakan, sampai saat ini pasien Poliklinik Desa (Polindes) Meileppet sebanyak 35 orang. Umumnya menderita flu, batuk dan demam. Namun dipastikan tiga hari pascabanjir pasien bakal membeludak. “Air bersih minim sehingga korban banjir rawan diare, muntaber, flu, batuk dan gatal-gatal,” ujarnya.

Sementara itu, tingginya gelombang laut akibat cuaca ekstrem, menyebabkan beberapa kapal yang membawa bantuan logistik dan relawan dari Padang, terpaksa balik ke Padang. Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh kapal dari institusi mana yang dihantam ombak yang dilaporkan mencapai tiga meter lebih.

Sumber: Padang Ekspres

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: