50 Ha TNKS Solsel Dijarah

Ilustrasi | Foto: pakagri.blogspot.com |

Ilustrasi
| Foto: pakagri.blogspot.com |

Lahan Hutan Diperjualbelikan Warga

Solsel – Lebih dari 50 hektare lahan di kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Solok Selatan rusak dibabat. Diduga, pelakunya adalah warga Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Ironisnya, pengelola TNKS terkesan cuek dengan pembalakan liar yang berpotensi menyebabkan banjir besar di Kecamatan Sangir dan Sangirjujuan.

Informasi yang dihimpun Padang Ekspres, kawasan yang dirusak dimulai dari Gunung Bontak dan Gunung Pasie, Nagari Lubukgadang, Kecamatan Sangir hingga Golden Arm, ibu kota Solsel.

Direktur LSM Institution Conservation Society (ICS) Solsel, Salva Yandri mengatakan, kawasan hulu Batang Sangir dibabat para pembalak sehingga potensi galodo jika hujan.

“Kita kecewa dengan pihak TNKS, karena telah melakukan pembiaran terhadap pembalakan hutan TNKS oleh warga Kerinci,” tegas Salva Yandri ketika ditemui Padang Ekspres di Padangaro, kemarin (12/5).

Kata dia, 10 dari 50 hektare hutan TNKS yang dibabat itu merupakan kawasan zona inti dan telah memasuki kawasan pusat ibu kota. Pembalakan hutan itu telah dilakukan sejak tiga bulan lalu, pada ketinggian 1.008 dari permukaan laut. Bagian utara berada pada koordinat 0755930 dan bagian selatan pada 98200408, yakni hutan sekunder.

Tidak hanya kawasan hutan yang dibabat, puluhan hulu sungai besar maupun kecil juga rusak dan berpotensi banjir besar di Kecamatan Sangir dan Sangirjujuan. Bila musim hujan, tidak tertutup kemungkinan Batang Sangir akan meluap.

“Ini mengancam keselamatan warga yang berdomisili di sepanjang aliran sungai, akibat pembalakan hutan TNKS dan perusakan ulu sungai. TNKS juga ikut bertanggung jawab, karena telah melakukan pembiaran,” tegasnya.

Bekas pembalakan itu dijadikan perkebunan kopi, kayu manis dan kayu surian, bahkan diperjualbelikan tanpa surat pengesahan jual beli tanah dari Pemkab Solok Selatan. Sebelum tim penyelamat alam dan fauna itu datang, warga yang membalak TNKS tersebut terlebih dulu kabur.

Murasman, warga yang ditemui di hutan TNKS, mengaku warga Kerinci. Lahan TNKS itu dibelinya dari warga Kerinci. Tapi, dia enggan menyebut identitas warga tersebut.

“Kami temukan warga yang menggunakan logat bahasa Kerinci, yang berusaha kabur saat razia. Tanah ini telah saya beli dari teman saya, juga warga kerinci,” kata Mu­rasman.

Dari penelusuran tim ICS, pondok-pondok di tengah hutan itu ada kalender Bupati Kabupaten Kerinci. Ada pu­luhan pondok di dalam hutan itu. Di dalam pondok ada alat penjerat binatang (satwa liar), alat komunikasi radio yang menggunakan sistem nirkabel. “Ini harus segera ditindak. Jika tidak, makin leluasa orang merambah hutan Solsel,” katanya.

Tokoh pendiri Kabupaten Solsel, Sutan Saridin mendesak pihak TNKS dan polisi kehutanan segera memberantas pembalakan hutan lindung itu.

Sutan mengungkapkan, tahun 2009 dan 2010 masyarakat Solsel telah mengusir warga tetangga yang merampas tanah masyarakat Lubuk Gadang Timur Kecamatan Sangir. Saat itu, sempat terjadi bentrokan.

“Pemkab Solsel melarang masyarakatnya menebang hutan TNKS atau berladang di sana. Tapi, warga Kerinci dibiarkan. Ada apa ini?” kata Ninik mamak Solsel, Syafrudin Wakil Pintu Basa.

Tanah dan hutan yang telah mereka kuasai secara ilegal, yakni Kubanggajah, Teluk Air Putih, Gunung Bontak dan kawasan Golden Aem.

“Kita berharap pemkab, TNKS dan polisi kehutanan segera memberantas pelaku. Jika sudah diperjualbelikan tanpa surat menyurat, berarti niniak mamak, masyarakat dan pemerintah hingga ke tingkat jorong sudah dikelabui,” terangnya.

Kepala TNKS Solok Selatan, M Zainudin ketika dikonfirmasi mengklaim kawasan Gunung Bontak bukan termasuk wilayah TNKS. Namun begitu, dia mengaku sudah tahu dengan pembalakan liar itu.

Seperti di kawasan Gunung Pasir hingga ke Golden Arm, perlu dikroscek atau meninjau kembali hutan TNKS yang dibalak tersebut dalam waktu dekat. “Bila sudah melanggar undang-undang, mereka akan kita tangkap dan disanksi sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya ketika dikonfirmasi Padang Ekspres di Padangaro.

Sebelum diambil tindakan, titik koordinat hutan harus ditentukan dulu. Apakah masuk dalam kawasan hutan TNKS, atau hutan HPL. Bila hutan HPL, yang berwenang menindak ada­lah dinas terkait, bukan TNKS.

Diakuinya, hulu sungai banyak yang telah rusak akibat pembalakan hutan. Namun dia menegaskan tidak pandang bulu untuk menertibkannya.

Menyikapi itu, Kepala Dinas Kehutanan Solsel, Tri Handoyo Gunardi menegaskan akan segera berkoordinasi dengan pihak TNKS. “Hari ini (Senin, red) kita segera berkoordinasi dengan TNKS,” ujarnya ketika dihubungi Padang Ekspres, tadi malam.

Kata dia, Dishut dan TNKS akan mengecek ke lokasi dan menentukan mana kawasan hutan TNKS dan APL (areal pengguna lainnya). Ini, untuk menghindari perbedaan dalam menentukan titik koordinat hutan tersebut.

“Saya akan koordinasikan dulu dengan pihak TNKS, dan bersama-sama menyisir lokasi hutan yang telah dibabat oknum pelaku. Bila sudah diperingatkan, masih saja berada di lokasi, baru upaya penangkapan berdasarkan aturan yang berlaku,” jelasnya.

 

Sumber: Padang Ekspres

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 260 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: